Allah, dihati ini sudah kusediakan ruang lebar untuk menerima keputusan-Mu. Sebagaimana luas nya tempat-Mu menerima aduanku sewaktu waktu.
Perihal takdir yang tidak berjalan seperti yang diingin itu bukan artinya terbengkalai.
Bagiku, Engkau Maha Baik. Entah saat mengabulkan doaku atau menggugurkan sebagian yang lain. Saat rencana lemahku batal, ada rencana kuat-Mu yang sedang beraksi. Seolah aku yang dalam perjalanan menuju sebuah tempat asing diingatkan salahsatu penduduknya, “Mas/Mba, jalan itu ujungnya rusak, lewat sebelah sini saja”
Tanpa rencana, aku melirik sesuatu yang menerbitkan kembali senyumanku.
Lihatlah, Tuhan. Semut dibawah meja yang memungut sisa roti itu saja Engkau urusi
perihalnya, maka pantaskah aku percaya jika engkau akan meninggalkanku begitu saja?